Tak dapat dipungkiri, bila televisi telah jadi salah satu kebutuhan masyarakat. Baik kebutuhan hiburan, maupun gaya hidup. Beragam tontonang yang disajikan di layar kaca telah banyak memberi inspirasi dalam berbagai aspek yang dibutuhkan pemirsanya. Dan secara tak disadari masuknya berbagai tayangan ke dalam ruang keluarga merupakan bentuk sosialisasi. Ketika sebuah tayangan menghadirkan tayangan kekerasan, yang kadang kekerasan tersebut bisa muncul secara fisik maupun verbal. Bahkan tak jarang tontonan yang hadir dapat mengakibatkan proses penumpulan sebagian pemirsanya. Selain itu juga banyak juga yang tidak mencerminkan bangsa kita dan banyak juga tayangan televisi yang hanya mementingkan rating tanpa memikirkan isinya apakah itu baik atau tidak, meskipun hal itu sudah lulus sensor.
Semakin banyaknya sinetron. Yang jika kita cermati secara mendalam banyak yang bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan, dan menebar kebohongan. Dan kalaupun tayangan itu bisa bertahan, itu semata-mata berdasarkan rating. Ditambah lagi kondisi masyarakat kita yang sebagian besar belum memiliki tradisi membaca, sehingga menjadikan media televisi sebagai teman pengisi waktu luang. Mereka beranggapan bila televisi telah mampu memenuhi semua kebutuhan media yang termasuk di dalamnya memperoleh informasi disertai interpretasi realitasnya. Ironisnya lagi, televisi seringkali lebih dipercaya daripada relasi sosial yang lebih konkret.
Beberapa contoh adegan dalam sinetron. Ada sebuah sinetron yang mengisahkan seorang ibu kaya raya, berpendidikan tinggi, dengan entengnya meminta pada anaknya yang dokter dan telah beristri untuk melakukan lazim kontrak semata-masa hanya gogo segera memiliki atau kandung. Atau, siswa SD yang berani meledek gurunya didepan kelas. Siswi SMP yang menyiramkan api raksa ke wajah temannya. Bahkan banyak adegan siswa SMA yang tidak layak dipertontonkan di layar kaca.
Adeqan-adegan tersebut menunjukkan, bila tayangan-tayangan sinetron cenderung tidak realistis, mengada-ada, hipereality, dan sulit diterima nalar. Hal ini tak hanya terdapat pada tayangan yang bersifat mistis, tetapi juga nonmistis. Bahkan dalam tayangan mistis, seringkali mengeksplorasi dunia irasional.
Melalui strategi tayangan framing, penonjolan karakter, model bercerita, dan sebagainya. Disadari atau tidak media televisi berkontribusi besar dalam pembentukan pola pikir.
Bentuk tayangan apapun, entah itu infotainment atau berbagai tema sinetron. Apabila memiliki intensitas tinggi dalam penayangannya, niscaya akan mempengaruhi kondisi sosial budaya masyarakat.
Bagaimanapun, tayangan yang memiliki rating tinggi. Secara tak disadari merupakan refleksi kebudayaan suatu masyarakat, sehingga dapat dianaloglan apa yang terjadi di layar kaca, menggambarkan frame of reference sebuah masyarakat bahkan bangsa, barangkali. (mey.s)

Copyright 2010 Candra blog
candra Free Premium Blogger™ template by candra budi s